Salah satu dari sekian ribu komunitas imigran Muslim di Eropa termasuk komunitas Aceh di Swedia. Kepada Muslim di Aceh mereka menghimbau untuk intropeksi diri dengan identitas Islam

Hari raya Idul Fitri tahun ini di seluruh dunia mayoritas jatuh pada hari Senin, 28 Juli 2014. Usai berpuasa satu bulan di akhir Ramadhan selanjutnya diikuti dengan shalat Idul Fitri oleh Muslim di seluruh dunia.

Bagi mereka dirantau yang jauh dari tanah air, seperti komunitas Aceh di Swedia, sebagai pengobat kerinduan menjalankan ibadah puasa dan lebaran bersama keluarga di kampung halaman, mereka melakukan shalat Idul Fitri di Meunasah Aceh, Stockholm yang bernama Svensk Atjehnisiska Förening. Uniknya, meskipun tinggal di Swedia, khutbah hari raya tahun ini dalam bahasa Aceh karena mayoritas jamaahnya warga negara Swedia kelahiran Aceh, serta sesuai dengan standar hukum dan rukun shalat Id yang ada.

Koordinator Persatuan Masyarakat Aceh (PMA) di Swedia, Tgk Syahbuddin Abdurrauf mengutarakan kepada acehbaru.com, Selasa (29/7) melalui email, momen Idul Fitri dalam lingkungan Aceh dirantau bisa dimanfaatkan untuk menjalin ukhuwah Islamiah dan juga menyambung kembali silaturahim antar sesama warga Aceh di Swedia.

 

Pesan Idul Fitri

Tema khutbah kali ini, sebut Tgk Syahbuddin, ”Islam Kaffah sebagai sistem kehidupan Muslim”. Shalat Id sebelumnya dimulai pada pukul 9 pagi di Swedia dengan khatib Idul Fitri sekaligus Imam di meunasah Aceh Stockholm, Tgk Ramli Abu Bakar.

Saat suasana Idul Fitri di rantau ini, dalam salah satu khutbahnya, khatib mengutip surat Al-Baqarah ayat 208 yang menguraikan dua pesan berbentuk perintah untuk masuk kedalam Islam secara kaffah dan larangan untuk mengikuti setan. Makna Islam kaffah itu contohnya termasuk dalam aspek, iman, akhlaq, kehidupan pribadi, rumah tangga, urusan negara, hubungan kepada Muslim dan non Muslim. Hematnya, Islam itu adalah sebagai sebuah sistem yang mengatur seluruh kehidupan Muslim.

Tgk Ramli yang juga alumni pendidikan militer dan agama di Libya tahun 1989, mengutip catatan harian Tgk Hasan di Tiro, menyebutkan bahwa Aceh dan Islam itu umpama sekeping uang logam yang sama dibagian atas bawah.

”Dari lahir, menikah sampai mati semuanya diatur dalam Islam,” jelas khatib sambil mengutip firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 96 yang bermaksud ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

 

Puasa 20 Jam

Dalam bagian lain, isi khutbah berisi inti dari tafsir surat Al-Baqarah ayat 286 yang maksudnya: ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Maka, manusia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan manusia pula mendapat siksaan dari kejahatan yang diperbuatnya”

Lebih lanjut, Tgk Ramli menguraikan bila agama Islam adalah mudah sesuai kemampuan manusia, tidak membebani sesuatu yang mereka tidak sanggup memikulnya. Pada asalnya perintah dan larangan tidaklah memberatkan seseorang, bahkan hal itu merupakan makanan bagi ruh dan obat bagi badan serta menjaganya dari bahaya.

”Oleh karena itu, apabila ada udzur yang mengakibatkan berat melaksanakan perintah itu, maka ada keringanan dan kemudahan, baik dengan digugurkan kewajiban itu atau digugurkan sebagiannya sebagaimana pada keringanan-keringanan bagi musafir dan orang yang sakit,” jelas khatib diatas mimbar yang bertuliskan Meunasah Atjèh Stockholm.

Sesuai dengan letak geografis Swedia di Skandinavia, Tgk Ramli memberikan contoh bahwa berpuasa di kutub utara bagi Muslim tahun ini, melebihi 20 jam adalah sangat berat. Namun, setelah Ramadan akhirnya mampu juga.

Setelah mengupas panjang lebar isi khutbah, khatib Idul Fitri Aceh di Stockholm ini menyampaikan bahwa umat nabi Muhammad adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan yang memberikan faedah kepada umat manusia, karena menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang keji.

Seusai shalat Idul Fitri, puluhan warga Aceh yang datang dari berbagai kota di Swedia itu mengadakan acara halal bil halal bersilaturahim sekaligus open house untuk menyantap aneka ragam hidangan makanan khas Aceh versi Swedia. [Asnawi Ali]

Leave a Reply

Your email address will not be published.