Mentor baik; Nyaris 4 pertemuan “Academic Writing”

Dari semua sesi di DMA, hanya 2 kali kami meeting online, yang lainnya langsung tatap muka. Pertemuan tatap muka memang selalu menarik. Karena, penjelasan mentor jadi mengalir  dari motivasi, cerita hikmah, sampai tujuan utama membahas materi. Khusus di “academic writing” kami harus melalui hampir 4 minggu. Di antara 3 mentee bang Riza, mungkin sayalah yang paling belum siap melanjutkan sekolah lagi. Satu teman kami sudah mampu menuliskan “academic writing” dengan predikat “udah bagus, kalau dikirim langsung diterima ni kayaknya, udah fokus juga mau bahas Anggaran.” Dan itu kedengaran sangat k…e… r…e…e…n di telinga saya.

Tapi, keawaman saya dalam memahami “academic writing” mungkin bisa menjadi bekal buta teman-teman yang memiliki kefahaman “minim” seperti saya. Sebagai ibu dengan anak satu meski pada kenyataannya paling lambat progresnya tapi saya mengusahakan untuk selalu datang pada tiap pertemuan untuk belajar dari teman-teman yang lain. Belajar mengenai kegigihan, belajar lagi mengenai cara menulis dan yang paling penting jadi bersemangat kembali.

 

Academic writing yang bagus membuat percaya diri

“Academic writing ditulis untuk ditujukan ke kampus yang kita tuju, secara khusus kepada profesor yang akan menjadi pembimbing kita ke depan. Academic writing memiliki bobot yang cukup besar untuk dipertimbangkan agar kita dapat menerima LOA”

Sebelum mendengarkan penjelasan ini saya masih berpikir bahwa Ketika nanti sekolah lagi saya akan dipertemukan dengan dosen pembimbing yang sesuai dengan Tesis saya. Pada kenyataannya teman sekelompok saya telah mengantongi beberapa nama profesor yang akan dijadikan prof pembimbing. Mungkin ketika kuliah strata satu dulu, kita akan merasa canggung untuk menghubungi dosen tanpa ada ikatan yang dibuat oleh institusi. Maka membuat academic writting sebaik mungkin akan membuat kita lebih percaya diri menghubungi kampus atau professor tujuan kita.

my.cumbria.ac.uk

 

Academic writing bisa diambil dari bahan skripsi kamu, atau apa yang memang kamu sukai

Mungkin menuliskan academic writing sesegera mungkin setelah menyelesaikan sarjana ada baiknya. Karena ingatan kita mengenai skripsi masih segar. Salah satu kendala yang saya hadapi dalam menuliskan academic writing adalah jeda yang cukup panjang, sehingga agak sulit memulai menulis. Namun, jika S2 kita nanti tidak berhubungan dengan skripsi sarjana kita bisa menuliskan hal lain yang menjadi fokus studi kita ke depan.

Seperti teman sekelompok saya Teguh, dia telah menuliskan academic writing dengan sangat baik mengenai “penyusunan anggaran dalam ekonomi Islam”. Tapi, mentor baik kami Bang Riza memberikan motivasi “ dulu juga tau judul tesis setelah setengah perjalanan kuliah. Jadi jangan patah semangat. Tapi, jangan ditunda academic writingnya”

 

Academic writing , belajar menulis sebelum jadi mahasiswa kembali

“Memang tidak semua negara meminta academic writting, tapi academic writting ini latihan nulis buat kita, jadi waktu nanti kuliah sudah tidak susah. Terus kalau di Kampus  bang Riza (Durham University) plagiat ini sangat-sangat dikasi warning. Waktu kita mahasiswa baru juga di sounding terus mengenai konsekuensi yang ketauan plagiat. “ (bg Riza, disadur dalam ingatan ketika pertemuan di Duek pakat Warkop)

Jadi nulis academic writing ini ya memang harus akademis, sesuai aturan, dipelajari juga cara-cara mengutip pendapat atau tulisan orang lain. Dan yang juga penting menuliskan academic writing ini membuat kita harus peduli dengan isu-isu terkini di bidang kita.

 

Ikuti cara penulisannya

Merujuk pada materi yang telah diberikan DMA, ketika kita menuliskan academic writing maka baiknya kita mulai dengan planning, understanding, brainstorming, dan setelah ketika hal itu kita menyusunnya menjadi outline tulisan yang runut. Setelah merunut poin perpoin dari tiap pembahasan. Misal;

  1. Introduction
    1. Background and context
    2. Definition
    3. Thesis statement
    4. Main point
    5. Themes
    6. Outline of essay

Setelah itu kita melakukan reaserch and reading, membaca sebanyak mungkin bahan yang berhubungan dengan academic writing kita dengan cara skiming atau scaning dan membuat catatan pada hal-hal yang berkaitan. Setelah itu kembali kita cocokan hasil bacaan kita dengan outline tulisan yang telah kita buat sebelumnya.setelah itu bualah draft keseluruhan acadmic writing kita.

Dan yang juga sangat penting. Setelah kita menuliskan draft jangan lupa mengedit Serta jangan sungkan meminta bantuan orang yang lebih mahir dalam menulis untuk memberikan masukan bagi tulisan kita. Serta orang yang pandai berbahasa inggris untuk proofreading tulisan yang kita buat. “jangan takut, saya waktu sekolah aja tetap butuh proofreading. Nanti kalau kalian mau saya bisa bantu proofreading. Silahkan dikirim ke email saya. Tapi jangan waktu deadline ya..”baiknya mentor kami.

Terimakasih DMA yang sudah memfasilitasi kami bertemu dengan mentor dan diberikan banyak sekali ilmu. Meski teknologi telah maju, semua kini seolah bisa disearch di google, tapi tetap saja memiliki mentor sangat dibutuhkan untuk kids zaaman now mendapatkan beasiswa.

 

 

FITRIA LARASATI

Penulis merupakan mentee batch 2 program mentoring Diaspora Muda Aceh 2017, dibawah bimbingan Mentor Riza Aulia (UK). Penulis bercita-cita untuk melanjutkan studi di bidang History and Civilization of Islam dengan tujuan Universitas di Malaysia ataupun Brunei Darussalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.